Untitled Document
Bisa Kami Bantu ?  
form informasi
DUMAS
 
Kontak & Lokasi Kampus
 
 
 
Untitled Document
Call for Papers Jurnal Sati Sampajanna No. 7 Tahun 2018, kirimkan artikel Anda ke jurnal.satisampajanna@gmail.com , keterangan lebih lanjut silahkan ke kolom PUBLIKASI P3M   |    Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2018/2019 STABN Sriwijaya Tangerang Banten, silahkan mendaftar diri!!   |    Selamat datang di STABN Sriwijaya "Buddhistik Unggul Berkarakter". Anda memasuki wilayah Zona Integritas: bebas dari korupsi dan bebas dari gratifikasi    |    STOP PUNGLI !!! Kami TOLAK PUNGLI !!! Ada pungutan liar, laporkan ke: lapor@saberpungli.id ; Call Center: 0821 1213 1323; SMS: 1193 / 0856 8880 881 / 0821 1213 1323; Fax.: 021-345 3085   |   
 
 
Untitled Document
Pendaftaran Online
Program Kuliah Jarak Jauh
Area Mahasiswa  -  Dosen
Program Reguler
Area Mahasiswa  -  Dosen
Alumni
Beasiswa
Galeri
Publikasi
 
Artikel
 
 
AKTIVITAS HIGHER ORDER THINKING PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA SISWA SEKOLAH DASAR DHARMA PUTRA KELAS V
23-02-2017 | dibaca 402 X

AKTIVITAS HIGHER ORDER THINKING
PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA
SISWA SEKOLAH DASAR DHARMA PUTRA KELAS V


Oleh:
Maya Dewi Pramita
dewim801@yahoo.co.id

.

Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam sebuah kehidupan manusia. Pendidikan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman untuk memperbaiki sumber daya manusia menjadi lebih baik. Oleh karena itu, setiap negara berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Negara berkembang seperti Indonesia merupakan negara yang perlu ditingkatkan dalam hal pendidikan. Mutu pendidikan di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan negara maju lainnya.

Salah satu masalah di Indonesia yaitu masih lemahnya hasil belajar peserta didik. Pada proses memperbaiki hasil belajar peserta didik, maka dibutuhkan peran seorang pendidik yang berkompeten. Pendidik memiliki peran untuk mendidik, membimbing, serta mengarahkan peserta didik menjadi lebih baik. Pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan berbagai metode, media, dan sumber belajar. Pendidik membuat rancangan pelaksanaan sebelum mengajar, agar pembelajaran tercapai sesuai tujuan. Pada proses pembelajaran dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha, pendidik dapat menstimulasi kemampuan berpikir peserta didik untuk aktif bertanya, berargumen, dan menyimpulkan hasil pengetahuan bahkan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Saat ini pendidik dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran. Pendidik yang kreatif dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan peserta didik, terutama pada ketercapaian tujuan pembelajaran. Kemampuan pendidik dalam mengajar menjadi penentu keberhasilan peserta didik, sehingga dituntut untuk dapat mengkreasikan pembelajaran sesuai dengan tujuan. Kemampuan pendidik yang kreatif dapat menjadikan peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran seperti menanyakan materi pelajaran. Kenyataannya terdapat pendidik yang belum menggunakan model pembelajaran yang kreatif. Kebanyakan pendidik masih dominan menggunakan metode ceramah dalam mengajar. Pendidik sebaiknya memilih metode pembelajaran yang tepat agar dapat menstimulasi kemampuan berpikir peserta didik. Pendidik dapat memberikan metode yang tepat sesuai materi pelajaran dan dengan menyesuaikan perkembangan peserta didik. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat dapat juga dilakukan dengan menggabungkan antara beberapa metode sesuai materi pelajaran dan perkembangan peserta didik. Dengan demikian diharapkan metode pembelajaran yang digunakan dapat mengembangkan aktivitas berpikir peserta didik. Berpikir merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mengatasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berpikir dapat dikembangkan dengan melatih keterampilan berpikir secara baik. Peserta didik harus memiliki kemampuan berpikir tinggi untuk dapat berpikir secara kritis, kreatif, logis, reflektif, dan metakognitif. Kemampuan berpikir di atas disebut dengan Higher Order Thinking (HOT) yang terdiri dari analisis, sintesis, dan mencipta. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai bentuk keterampilan berpikir yang seharusnya dimiliki oleh peserta didik seperti berpikir kritis, kreatif, logis, metakognitif, dan reflektif. Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk dapat menganalisis suatu permasalahan dan mengambil kesimpulan. Umumnya peserta didik lebih memilih memutuskan suatu masalah tanpa menganalisis penyebabnya. Peserta didik dapat diajarkan untuk memiliki keterampilan berpikir dengan cara memberikan contoh masalah kehidupan sehari-hari pada pembelajaran Pendidikan Agama Buddha. Hal tersebut akan melatih keterampilan berpikir, karena peserta didik dilatih untuk dapat mengidentifikasi masalah.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti kepada pendidik pada pembelajaran Pendidikan Agama Buddha Kelas II Sekolah Dasar (SD) Dharma Putra bahwa masih terdapat peserta didik dalam proses pembelajaran belum mampu menganalisis suatu permasalahan. Peserta didik tidak mengajukan pertanyaan apalagi memberikan argumen terhadap suatu masalah yang diberikan oleh pendidik (Observasi, 11 September 2015). Kasus tersebut menunjukkan bahwa beberapa peserta didik belum memiliki keterampilan berpikir dengan baik. Kasus lain peneliti temukan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Buddha nonformal pada Intensive Class di Vihara Siripada Tangerang. Pada proses pembelajaran yang sedang berlangsung peserta didik diminta untuk membaca berulang-ulang dan menjelaskan di depan kelas dengan bahasa sendiri. Akan tetapi, terdapat peserta didik yang menjelaskan sama seperti yang terdapat dalam teks bacaan (Observasi, 3 Desember 2015). Hal tersebut belum menunjukkan kemampuan berpikir tingkat tinggi oleh peserta didik, karena masih melihat teks bacaan.

Peserta didik mengalami proses berpikir yang berbeda-beda. Kemampuan berpikir peserta didik dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh pendidik pada Intensive Class di Vihara Siripada Tangerang. Peserta didik bernama Tissa memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan materi pelajaran. Pendidik meminta kepada peserta didik untuk menyebutkan nama dari lima pertapa, namun Tissa menjawab dengan berkata “saya tahu, itu lima pertapa yang jahat” (Observasi, 18 Desember 2015). Hal tersebut menunjukkan bahwa peserta didik belum mampu menggunakan keterampilan berpikirnya dengan baik. Pendidikan Agama Buddha merupakan pendidikan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tinggi. Kemampuan berpikir tinggi digunakan untuk menghadapi setiap permasalahan yang muncul. Pada pembelajaran Pendidikan Agama Buddha di atas disimpulkan bahwa peserta didik belum mampu menggunakan kemampuan berpikir tinggi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Berbagai upaya telah dilakukan oleh beberapa pihak di SD Dharma Putra. Salah satunya kerja sama dilakukan antara pendidik dengan orangtua berdasarkan evaluasi perkembangan peserta didik selama proses pembelajaran. Pendidik menjelaskan kepada orangtua masalah peserta didik dalam proses pembelajaran. Upaya juga dilakukan oleh pendidik dengan memilih metode yang tepat untuk dapat menstimulasi kemampuan berpikir peserta didik SD Dharma Putra kelas V. Metode yang dipakai berupa diskusi dan demonstrasi untuk mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik (Wawancara, 6 Januari 2016). Usaha tersebut telah dilakukan oleh pendidik pada proses pembelajaran pendidikan agama Buddha. Peneliti akan melihat aktivitas pembelajaran pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran pendidikan agama Buddha untuk mengembangkan kemampuan berpikir.

Berdasarkan permasalahan yang ada, penelitian ini hanya difokuskan membahas aktivitas pembelajaran yang menstimulasi HOT peserta didik pada pembelajaran Pendidikan Agama Buddha Kelas V SD Dharma Putra. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan aktivitas pembelajaran yang menstimulasi HOT pada pembelajaran Pendidikan Agama Buddha SD Dharma Putra Kelas V. Manfaat praktis bagi sekolah berkaitan dengan kebijakan dan manajemen guna terciptanya proses pembelajaran yang mengedepankan berpikir tinggi dan keaktifan peserta didik. Hasil penelitian ini juga memberikan masukan bagi pendidik untuk mengembangkan Pendidikan Agama Buddha dalam menggunakan metode pembelajaran untuk menstimulasi HOT peserta didik.

.

Selengkapnya, silahkan unduh

 
 
Profil Bulan Ini
 
 
Pembukaan KKN XII / 2018, Ketua STABN: “Small is Beautiful”
Pembukaan KKN XII Tahun 2018 dibuka secara resmi oleh Ketua STABN Sriwijaya
   
 
 
 
     
 
Alumni Sukses
     
 
 
 
 
     
Untitled Document
 
    JUMLAH PENGUNJUNG
 
  Online : 3
Hari ini : 50
  Kemarin : 165
  Minggu ini : 1341
  Minggu Kemarin : 995
Bulan kemarin : 2922
  Total : 180235
 
Berita
 
 
Aksi Nyata Posko IV (KKN XII Tahun 2018)
Posko IV mempunyai enam program pokok, satu program penunjang, dan lima program tambahan
   
Rangkaian Acara Waisak 2562 BE / 2018
STABN Sriwijaya mengadakan serangkaian acara dalam menyongsong Hari Waisak
   
 
 
 
     
 
Artikel
     
 
EFEKTIVITAS TEKNIK HYPNOTEACHING UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA SISWA KELAS VIII SMP JAYA MANGGALA TANGERANG BANTEN
Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Siswa secara langsung dapat aktif dalam gerakan maupun komunikasi dan mampu mengingat pembelajaran yang baik
   
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT ORANGTUA MENYEKOLAHKAN ANAK DI NAVA DHAMMASEKHA KARUNA
Fungsi dari TK adalah untuk membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan
   
 
 
 
     
    All Right Reserved © STABN SRIWIJAYA